Beranda > Akidah & Aswaja, Ngaji > Tantangan Aswaja di Tengah Arus Perubahan

Tantangan Aswaja di Tengah Arus Perubahan

Beberapa tahun terakhir, khususnya sejak menjelang kelahiran era reformasi, bangsa Indonesia mengalami krisis multidimensional. Bermula dari krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi secara global, krisis politik, krisis sosial, krisis keamanan, hingga yang paling kita khawatirkan adalah krisis moral dan akidah. Arus informasi, melalui media elektronik dan cetak, dan internet seolah diposisikan sebagai guru yang harus digugu dan ditiru. Sadar atau tidak, faktanya, budaya Barat telah menjajah kita. Konsep kapitalisme dan liberalisme ala Barat sedikit demi sedikit merambah pada masyarakat kita. Benarkah ini sebagian dari tanda Kiamat sudah dekat ? Yang jelas, Rasulullah SAW. pernah bersabda:

لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرِ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ

Kalian akan meniru perbuatan orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani) sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikan mereka memasuki liang binatang melata, kalianpun akan memasukinya.

Di sisi lain, hal ini, diperparah dengan lemahnya pengetahuan masyarakat tentang nilai-nilai agama Islam yang benar. Kegagalan sistem kapitalisme, membangkitkan faham Islam radikal untuk menjajakan ideologi garis kerasnya. Di pihak lain, kehadiran faham radikal ini dihadang oleh faham Islam liberal dengan pemikiran bebasnya, hingga wacana pendangkalan akidah. Sebagai sikap husnudhdhon, kita anggap mereka semua memiliki itikad baik membenahi umat dan bangsa ini. Hanya saja, dakwah kelompok Islam radikal cenderung menakutkan, dan malah membikin lari umat. Karena seringkali ajaran Islam ditampilkan dalam wajah garang. Dan, Islam liberal kelewat batas dalam penekanan esensi yang kadang sekehendak hati, dengan mengabaikan nilai sakral dari sebuah tata aturan legal-formal ajaran Islam. Maka Ahlussunnah wal jama’ah berposisi di antara keduanya. Agar dakwah tak menjadikan umat semakin lari, tidak pula menjadikan umat semakin lalai.

Dakwah Aswaja menghendaki agar ajakan Islam ditampilkan dengan wajah ramah, bukan marah-marah. Sebagaimana tercermin dalam firman Allah SWT:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Jika dakwah Islam ditampilkan dengan sikap marah-marah, wajah menakutkan, tebaran teror dan ancaman, pastilah umat akan semakin menjauh, bukan saja menjauh dari kelompok Islam garis keras yang mengajaknya, tapi juga bukan tidak mungkin, malah akan menjjauh sama sekali dengan semua hal berbau Islam. Jadilah, umat menjauh pada para ulama’nya. Jika demikian yang terjadi, dikhawatirkan tiga jenis bala’ yang akan terjadi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيَهُمُ اللهُ بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ أُوْلاَهَا يَرْفَعُ اللهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيْمَانٍ

Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka lari dari ulama dan fuqaha’, maka Allah pun menimpakan tiga bentuk cobaan. Pertama, Allah akan menghilangkan barakah dari penghasilan mereka. Kedua, Allah akan menguasakan mereka di bawah kekuasaan pemimpin yang dhalim. Ketiga, mereka akan keluar dari dunia fana dengan tanpa membawa iman.

Demikianlah, semoga dakwah Aswaja yang berkarakter tawassuth (moderat), tawazun (berimbang), ta’adul (netral, adil), dan tasamuh (toleran) betul-betul menjadi berkah dalam kehidupan keberagamaan umat. Amiin..

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: