Beranda > Ngaji, Tabligh > KOREKSI DIRI

KOREKSI DIRI

Dalam setiap masa, koreksi diri harus senantiasa kita lakukan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Begitu pula, esok harus lebih baik dari hari ini. Jika hari ini tidak ada peningkatan atau sama seperti hari kemarin, maka kerugianlah yang kita dapati. Apalagi jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, laknatlah yang akan kita terima. Al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa Abdul Aziz bin Abi Rawwad dipetuahi oleh Rasulullah SAW. dalam mimpi:

مَنْ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ وَمَنْ كَانَ أَمْسُهُ خَيْرًا مِنْ يَوْمِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى الزِّيَادَةِ فَهُوَ فِي النُّقْصَانِ فَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ وَمَنِ اشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَارَعَ إِلَى الْخَيْرَاتِ (رواه البيهقي)

Barangsiapa dua harinya (hari ini dan hari kemarin) sama, berarti dia telah merugi. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, berarti dia terlaknati. Barangsiapa yang tidak mendapatkan tambahan, maka dia mengalami kekurangan, dan mati baginya adalah lebih baik. Barangsiapa rindu akan surga, pastilah bersegera menuju kebajikan.

Karenanya, Allah memastikan bahwa semua manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, dan berwasiat atas kebenaran dan kesabaran. Dalam surat Al-‘Ashr Allah berfirman :

وَالْعَصْرِ   إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ   إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (العصر 1-3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Al-Fakhrur Razi dalam tafsirnya menyatakan bahwa manusia tidak akan terlepas dari bayang-bayang kerugian. Kerugian adalah habisnya modal, sementara modal manusia adalah umurnya. Dan, kebanyakan manusia tak akan bisa lepas dari habisnya umur. Sebab, waktu senantiasa berlalu, jika berlalunya waktu adalah untuk kemaksiatan, tak diragukan lagi, ini adalah sebuah kerugian. Dan, jika waktu berlalu hanya sekedar untuk sesuatu yang mubah, tentunya kerugian pun akan dialaminya, karena, modal umur telah dihabiskannya, sementara hasil nyata berupa pahala tidak didapatinya, ini berarti juga sebuah kerugian. Bahkan, andaikan pun seseorang melakukan ketaatan dengan kadar kualitas tertentu, pastilah dia bisa meraup pahala lebih besar lagi dengan melakukan ketaatan berkualitas lebih tinggi dari yang ia lakukan, misalnya dengan kadar kesungguhan dan ketulusan yang lebih baik. Dan, berpaling dari pencapaian prestasi ibadah lebih sempurna, serta berpuas diri dengan ketaatan secukupnya, merupakan satu diantara bentuk kerugian. Walhasil, semua manusia akan merugi, yang berbuat ketaatan, bersantai dengan amalan mubah, apalagi terjerumus dalam lumpur dosa dan kemaksiatan.

Surah Al-Ashr di atas mengingatkan agar kita senantiasa was-was dan waspada. Bayang-bayang kerugian harus senantiasa tertanam pada benak kita. Karena dengan demikian, kita akan merasa sayang jika mengalami kerugian untuk yang kesekian kali. Kita harus senantiasa khawatir, akankah kita mengalami banyak kerugian dan akhirnya dinyatakan bangkrut setelah perhitungan amal kelak di hari Kiamat? Bahkan, akankah kita selamat di penghujung perjalanan hidup kita dengan tetap pada pegangan iman dan Islam, dengan akhir manis berupa husnul khatimah ? Kita harus senantiasa merasa was-was dan khawatir, dan ini merupakan sebuah kewajiban. Allah berfirman :

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (الأعراف 99)

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Namun, tentunya rasa was-was dan kekhawatiran ini tidak sampai menyebabkan perasaan putus asa dari rahmat-Nya. Kasih sayang Tuhan amatlah luas, lebih luas dari sekedar kekhilafan hamba-hamba-Nya. Ampunan Allah amatlah besar, lebih besar dari tumpukan gunung dosa para makhluk-Nya. Jika seorang hamba benar-benar menyesal dan bertaubat atas kemaksiatan yang dilakukannnya, serta menebusnya dengan kesungguhan amal kebajikan, niscaya Allah tak akan menyia-nyiakan penyesalannya. Dia berfirman :

وَلاَ تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ (يوسف 87)

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

(الزمر 53)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Demikianlah, Semoga Allah senantiasa menuntun kita pada jalan yang lurus dan diridhoi-Nya, mengampuni segala dosa, membebaskan dari tempaan api neraka dan menghantarkan ke taman surga-Nya. Amin.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: