Beranda > Ngaji, Tabligh > Persaudaraan, Buah Akhlaq Mulia

Persaudaraan, Buah Akhlaq Mulia

persaudaraan

Satu diantara buah dari akhlaq yang baik adalah rasa persaudaraan, kecintaan dan sepenanggungan. Sebagaimana buah dari akhlaq yang tercela adalah kemunafikan, kebencian, serta iri dan dengki. Persaudaraan yang dibangun dari pondasi kemuliaan akhlaq dan ketakwaan bukanlah sekedar etika basa-basi, atau respon balik dari sikap yang sama. Melainkan persaudaraan yang muncul dari lubuk hati dan merupakan ekspresi keimanan. Dalam sebuah hadis diungkapkan:

 

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : يَا أَبَا هُرَيْرَةَ عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ , قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : وَمَا حُسْنُ الْخُلُقِ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتَعْفُوْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ (رواه البيهقي)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Abu Hurairah, berbudi pekerti lah yang baik !”, Abu Hurairah radliyallahu anhu bertanya, “Apakah budi pekerti yang baik itu, wahai Rasulullah ?”, Rasul menjawab, “Yaitu engkau menyambung hubungan orang yang memutuskanmu, engkau memaafkan orang yang menganiayamu, dan engkau member terhadap orang yang menghalangimu” (HR. Baihaqi)

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mencatat sejumlah hak dalam persaudaraan, yang harus dipenuhi. Berikut ini diantaranya.
Hak pertama, terkait dengan harta. Dalam persaudaraan, tolong menolong adalah merupakan salah satu asas penting. Persaudaraan yang sempurna adalah perasaan senasib sepenanggungan, sehingga kepentingan orang lain adalah juga kepentingannya, sebagaimana diri yang satu. Kesulitan orang lain adalah juga kesulitannya, kegembiraan orang lain juga adalah kegembiraannya. Ada tiga tingkatan kedermawanan seseorang terhadap saudaranya.
Tingkatan pertama, memposisikan saudara layaknya seorang khadim atau pembantu, yakni memenuhi segala kebutuhannya dari kelebihan harta yang dimiliki, dengan inisiatif sendiri, tanpa menunggu hingga saudaranya meminta.
Tingkatan kedua, memposisikan saudara layaknya diri sendiri, dengan kebersamaan dalam kepemilikan harta, hingga segala miliknya, tak ubahnya adalah milik saudaranya pula. Kapanpun saudaranya membutuhkan, dipersilakannya dengan kerelaan hati mengambil sendiri.
Tingkatan ketiga,  mengutamakan kebutuhan saudaranya di atas kebutuhan pribadinya. Inilah tingkatan tertinggi, sebagaimana pujian Allah kepada para shahabat Anshar :

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (الحشر: 9)

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr : 9)

Hak kedua, adalah bantuan dengan tenaga fisik. Sebagaimana dalam hak pertama, hak kedua inipun bertingkat-tingkat. Tingkatan terendah adalah memenuhi kebutuhan saudara di saat diminta dan mampu membantu, tentunya dengan raut muka ceria dan senyum kegembiraan. Sebagian ulama’ berkata, “Jika engkau meminta bantuan kepada saudaramu, lalu dia tidak memenuhinya, maka ajukanlah untuk yang kedua kalinya, barangkali saja dia lupa. Jika dia tetap saja tak memenuhinya, maka bacakan takbir kepadanya (yakni, shalatilah dia, seakan-akan dia telah mati).”
Hak ketiga, memelihara lisan. Yakni dengan tidak menyebut-nyebut keburukannya, di hadapan atau di belakangnya, bahkan hendaklah berpura-pura tak tahu. Janganlah pula mencari-cari tahu kesalahannya, atau memata-matainya. Ada dua alasan, mengapa kita dilarang menyebut-nyebut kesalahan saudara kita. Pertama,  introspeksilah pada diri sendiri. Jika pada diri kita terdapat perilaku tercela, maka maklumilah keburukan yang terjadi pada saudara kita. Mungkin saja dia tidak kuasa dalam mengendalikan diri, sebagaimana juga kita tidak kuasa mengendalikan diri kita saat melakukan perbuatan tercela. Kedua, jika kita mencari orang yang betul-betul bersih dari cela, maka pastilah kita akan memencilkan diri dari khalayak ramai, dan tak akan menemukan teman. Karena tak satupun manusia, kecuali dia memiliki kebaikan dan keburukan. Seorang mukmin yang baik selamanya akan mengingat kebaikan saudaranya, agar di hatinya tumbuh rasa penghormatan dan kecintaan padanya. Ibnu Mubarak berkata, “Orang mukmin mencari permakluman, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan”.
Hak keempat, memaafkan kekeliruan dan kesalahannya. Terhadap kesalahan teman, jika terkait dengan agamanya, hendaknya kita menasihatinya secara halus. Jika sang teman terus saja melakukan kesalahan itu, sebagian ulama’ memandang perlunya pemutusan hubungan. Sebagian ulama’ lainnya memandang bahwa hubungan persaudaraan harus tetap terjalin, meski dengan tetap membenci perbuatannya. Adapun jika terkait dengan pribadi, semisal sang teman menyakiti kita, maka tak selayaknya persaudaraan diputus karenanya. Berikanlah permaafan. Jika mungkin, yakinilah, bahwa dia melakukannya karena alasan tertentu yang mungkin menurut dia adalah tindakan tepat.
Hak kelima, mendoakannya, terlebih lagi di doa fi dhahril ghaib, yakni mendoakan terhadap seseorang tanpa sepengetahuannya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ (رواه مسلم)

Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan Malaikat berkata, “Dan engkaupun akan mendapat semisal doamu” (HR. Muslim)

Demikianlah, sekelumit tentang arti penting persaudaraan yang dibangun di atas dasar ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Marilah kita, segenap kaum muslimin membangun persaudaraan di antara sesama, dimulai dari skala yang paling kecil, hingga terciptalah persaudaraan dalam sekup yang lebih besar, umat dan bangsa kita tercinta. Bagaimanapun, tergalangnya persaudaraan semata-mata merupakan nikmat Allah yang paling agung.

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (الأنفال 63)

Allah-lah yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal : 9)

Marilah kita berharap dan berdoa, semoga umat dan bangsa ini mampu merajut kembali persatuan yang sempat terkoyak, demi sebuah kebangkitan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: