Beranda > Fiqh, Ushul & Qa'idah, Ngaji > Khuthbah Jum’at, Apa dan Bagaimana?

Khuthbah Jum’at, Apa dan Bagaimana?

Secara harfiah, khuthbah berarti ucapan yang tersebar, yang digunakan sebagai bahan ceramah oleh seseorang yang fasih ucapannya pada sekelompok orang agar patuh. Dalam istilah fiqh, khuthbah adalah ucapan-ucapan tersusun yang berisi petuah dan penyampaian pesan dengan sifat-sifat tertentu. Ada beberapa jenis khuthbah yang disyari‘atkan yaitu
1.    Khuthbah Jum‘at.
2.    Khuthbah Idul Fitri.
3.    Khuthbah Idul Adlha.
4.    Khuthbah Kusuf (gerhana matahari).
5.    Khuthbah Khusuf (gerhana rembulan).
6.    Khuthbah Istisqo’.
7.    Khuthbah-khuthbah dalam rangkaian ibadah haji
»    Khuthbah Yaum al-Zinah, dilakukan di Makah pada tanggal 7 Dzulhijjah
»    Khuthbah Yaum al-‘Arafah, dilakukan di Namirah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
»    Khuthbah Yaum al-Nahr, dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah.
»    Khuthbah Yaum al-Nafar awal, dilakukan di Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah
Semua jenis khuthbah di atas dilaksanakan setelah sholat, kecuali khuthbah Jum’at dan khuthbah hari Arafah yang dilakukan sebelum sholat, serta khuthbah Istisqo’ yang boleh dilakukan sebelum atau sesudah sholat. Semua khuthbah di atas dilakukan dua kali kecuali tiga khuthbah terakhir yang dilaksanakan hanya satu kali.

Syarat-Syarat Khuthbah Jum’at
Khuthbah Jum’at dilakukan dua kali dengan disela-selai duduk diantara keduanya sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw. (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar). Secara terperinci, ada 12 syarat dalam khuthbah Jum’at, yaitu :
1.    Pelaku khuthbah (khothib) harus laki-laki.
2.    Dilakukan dengan berdiri bagi yang mampu (HR. Muslim dari Jabir bin Samurah)
Jika tidak mampu berdiri boleh dengan duduk. Bila duduk pun tidak mampu, maka dengan berbaring miring (idlthija’). Namun jika tidak mampu berdiri, lebih baik mencari ganti orang lain yang mampu berdiri.
3.    Duduk di antara dua khuthbah (HR. Muslim dari Jabir bin Samurah).
Duduk diantara dua khuthbah ditujukan sebagai pemisah antara dua khuthbah tersebut. Sehingga lamanya masa duduk juga dipertimbangkan, sekira antara dua khuthbah tersebut dianggap terpisah. Sebaiknya lamanya masa duduk ini sepanjang masa yang cukup digunakan untuk membaca surat Al-Ikhlash (satu pendapat mengatakan sekiranya cukup digunakan untuk mengerjakan sholat dua rakaat dalam tempo sedang).
4.    Dilakukan dalam keadaan suci dari hadats serta terbebas dari najis yang tidak ma’fu (dimaafkan), pada badan atau tempat khuthbah.
5.    Khothib harus tertutup auratnya.
6.    Rukun khuthbah harus diperdengarkan kepada 40 orang jama’ah (isma’).
7.    Rukun khuthbah harus didengar oleh 40 orang dari jamaah (sima’).

Catatan : Dalam hal isma’ dan sima’ ulama terbagi dalam dua versi
    Menurut Imam Ibnu Hajar, isma’ dan sima’ harus secara nyata (bil fa’li).
    Menurut Imam Romli, isma’ dan sima’ cukup dengan perkiraan saja (bil quwwah).
    Persyaratan 40 orang ini adalah qaul jadid Imam Asy-Syafi’i. Sedangkan dalam qaul qadim sendiri terdapat dua versi pendapat, minimal jama’ah jum’ah adalah empat orang, dan dalam versi lainnya 12 orang. Versi pendapat qaul qadim Imam Asy-Syafi’i ini didukung dan ditarjih oleh sejumlah ulama’, diantaranya Imam Muzani dan Abu Bakar bin Mundzir. Sehingga, versi qaul qadim ini bisa diamalkan. (Lihat I’anah al-Thalibin vol. II hlm. 58-59)
8.    Semua rukun khuthbah harus menggunakan bahasa Arab. Karena khuthbah adalah dzikir yang hukumnya wajib, sebagaimana pula tasyahud dalam shalat, sehingga harus disampaikan dalam bahasa Arab. Meski demikian, diperbolehkan menterjemah khuthbah dalam bahasa setempat hanya yang berkaitan dengan wasiat takwa dan petuah bijak, dan hal ini tidak dianggap memutuskan muwalah (kesinambungan antar rukun khuthbah).
9.    Kedua khuthbah harus dilakukan pada waktu Dhuhur, dan sebelum pelaksanaan shalat Jum’at. (HR. Bukhari)
10.    Harus muwalah (berkesinambungan/ tidak terpisah). Muwalah dalam khuthbah  disyaratkan pada tiga tempat , yaitu:
    Muwalah di antara rukun khuthbah, akan tetapi jika diselingi dengan mau’idzoh tidak dianggap sebagai hal yang memutuskan muwalah, walaupun mau’idzoh itu tidak menggunakan bahasa arab.
    Muwalah di antara dua khuthbah.
    Muwalah di antara khuthbah dan sholat.

Rukun-Rukun Khuthbah
Rukun khuthbah terperinci ada lima. Tiga rukun harus dilakukan di dua khuthbah, yakni :
1.    Membaca hamdalah/ memuji kepada Allah (HR. Muslim dari Jabir)
Rukun ini bisa terpenuhi dengan menggunakan lafadz yang musytaq (tercetak) dari mashdar hamdun (حمد) dan juga harus menggunakan lafadh jalalah (الله).
2.    Membaca sholawat pada Nabi Muhammad saw.
Karena setiap ritual dzikir yang menuturkan asma Allah selalu beriringan dengan shalawat pada Rasulullah saw., sebagaimana dalam adzan dan shalat, maka dalam khuthbah pun demikian.
3.    Wasiat agar bertaqwa kepada Allah swt.  (HR. Muslim dari Jabir, dan HR. Muslim dari Ummi Hisyam binti  Haritsah bin An-Nu’man)
Sedangkan dua rukun yang lain dilaksanakan pada salah satunya, yaitu :
1.    Membaca ayat Al-Qur’an yang mudah untuk dipaham pada salah satu khuthbah, namun yang lebih utama supaya dilakukan pada khuthbah pertama. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ya’la bin Umayyah)
2.    Mendo’akan segala hal yang berkaitan dengan akhirat kepada segenap kaum muslimin, muslimat, mu’minin dan mu’minat pada waktu khuthbah kedua.

Kesunnahan Khuthbah
Berikut ini kesunnahan-kesunnahan yang berkaitan dengan khuthbah.
1.    Berurutan dalam rukun-rukun khuthbah, yakni mengawalinya dengan hamdalah, kemudian shalawat pada Rasulullah, wasiat takwa, bacaan Al-Qur’an, lalu do’a untuk kaum muslimin, sebagaimana dilakukan oleh generasi salaf.
2.    Khuthbah dilakukan di atas mimbar, atau tempat yang tinggi, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim), agar suara khothib lebih dapat didengar dengan jelas oleh hadirin. Disunnahkan pula agar mimbar berada di sebelah kanan mihrab (tempat imam).
3.    Menghadap pada hadirin dan mengucapkan salam setelah naik ke mimbar.
4.    Khuthbah dilakukan dengan bahasa yang fasih, lugas, dan mudah difaham, dengan durasi sedang, tidak terlalu panjang, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. (HR Muslim)
5.    Tangan kiri memegang semisal pedang (sekarang tongkat), dan tangan kanan berada tepi mimbar, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. (HR. Abu Dawud) dan para generasi salaf. Jika tidak ada tongkat, maka hendaknya tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, agar tercipta suasana khusyu’.
6.    Disunnahkan, lamanya duduk di antara dua khuthbah sepanjang masa pembacaan surat Al-Ikhlash. Dan hendaknya pada waktu duduk, membaca sembarang ayat Al-Qur’an, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. (HR. Ibnu Hibban)

Prosesi Khutbah Jum’at.
Dalam prosesi khuthbah diperlukan dua orang petugas. Seorang sebagai khothib (pembaca khuthbah) dan yang lain sebagai muadzin (orang yang adzan) sekaligus menjadi muroqqi (pengantar khothib naik ke mimbar) dan bilal. Juga ditambah dengan tongkat (zaman dahulu menggunakan pedang atau busur panah).
»    Di saat waktu shalat Dhuhur telah masuk, maka muadzin melakukan adzan pertama. Adzan ini hukumnya bid’ah hasanah, yang merupakan inisiatif dari shohabat Ustman bin ‘Affan ra.
»    Setelah adzan pertama, disunahkan untuk melaksanakan sholat sunah ba’da adzan dua rakaat dan sholat sunah qabliyyah al-jum’ah empat atau dua rakaat.
»    Selesai melaksanakan sholat sunnah, bilal (yang biasanya juga dirangkap oleh muadzin), segera maju mengambil tongkat, kemudian menghadap ke jama’ah jum’ah. Kemudian dilanjutkan dengan membaca:

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، رُوِيَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ، إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ أَنْصِتْ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ (أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ الله(2× أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

»    Khothib maju untuk menerima tongkat dan naik ke atas mimbar dengan posisi menghadap ke arah kiblat (barat untuk wilayah Indonesia), kemudian bilal membaca do’a:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلإِيْمَانَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى إِقَامَةِ الدِّيْنِ) مُعَانِدِ الدِّيْنِ(  رَبِّ اخْتِمْ لَناَ مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

»    Setelah itu khothib mengucapkan salam kepada para hadirin Jum’ah, lalu muroqqi mengumandangkan adzan kedua.
»    Setelah muroqqi selesai berdo’a dan sudah duduk, khothib mulai melakukan khuthbah pertama, dengan posisi di atas mimbar dan menghadap ke jama’ah, dengan tangan kiri memegang tongkat dan tangan kanan memegang pinggir mimbar.
»    Selesai khuthbah pertama, khothib duduk yang lamanya tidak sampai memutuskan muwalah antara khuthbah pertama dan kedua, namun dianjurkan bagi khothib pada saat duduk ini untuk membaca surat Al-Ikhlas.
»    Di saat khothib duduk, muroqqi membaca sholawat dengan suara yang keras akan tetapi dengan syarat tidak sampai memutuskan muwalah. Bacaan sholawat tersebut seperti  :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

»    Kemudian khothib berdiri guna meneruskan membaca khuthbah kedua sampai selesai.
»    Selesai khothib membaca khuthbahnya, muroqqi (yang merangkap sebagai muadzin) secepatnya membaca iqomah dan imam segera menuju ke mihrob (tempat imam) untuk memulai sholat jamaah, supaya tidak memutuskan terhadap muwalah.

  1. Oemar Bakri
    22 Januari 2012 pukul 04:10

    Lumayan dapat pengetahuan…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: