Beranda > Fiqh, Ushul & Qa'idah, Ngaji > Berobat dengan Benda Najis atau Haram

Berobat dengan Benda Najis atau Haram

Islam menaruh perhatian cukup besar dalam hal pemeliharaan kesehatan. Sekian keringanan disyari’atkan untuk menjaga kesehatan. Bagi orang yang bepergian jauh, diperbolehkan tidak berpuasa Ramadan, karena kondisi bepergian akan menguras energi fisik, sementara dengan berpuasa, asupan energi terbatasi. Bagi orang sakit, yang dalam kondisi lemah fisiknya, boleh tidak berpuasa, agar penyakitnya tidak semakin parah. Dan sekian banyak contoh partikular lainnya. Termasuk juga berobat bagi orang yang sakit.

Secara umum, upaya pengobatan adalah legal secara syari’at, sebagaimana menjadi ijma’ para ulama’. Kalangan Syafi’iyyah menyatakan bahwa berobat hukumnya sunnah, berdasarkan sekian banyak hadis yang menganjurkannya. Meski demikian, seandainya seseorang yang sakit, tidak melakukan pengobatan dengan motif tawakkal, maka hal inipun masih dianggap sebagai sebuah keutamaan. Jika seseorang yang sakit tidak berobat, hingga pada akhirnya meninggal dunia, maka dia tidak dinyatakan berdosa akibat keengganannya. Beda halnya dengan seseorang dalam kondisi amat lapar, yang seandainya dia tidak makan, maka akan mati, tetapi dia enggan makan, dan pada akhirnya meninggal dunia, maka orang ini dinyatakan berdosa. Hal ini karena peranan makanan hampir bisa dipastikan sebagai penyambung hidup. Lain halnya peranan obat bagi orang yang sakit, keberadaannya belum bisa dipastikan menjadi penyebab kesembuhan dan keberlangsungan hidup. Korelasi berobat dengan kesembuhan masih dalam taraf dhann (dugaan, asumsi).

Selanjutnya, secara umum, syari’at melarang penggunaan obat dari benda najis, sebagaimana hadis Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَجْعَل شِفَاءَكُمْ فِيمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ (رواه البخاري)

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat kalian dalam sesuatu yang diharamkanNya atas kalian (HR. Bukhari)

Hanya saja, dalam penerapannya, para ulama’ memilah-milah ketidakbolehan ini. Dalam lingkungan madzhab Syafi’iyyah, terdapat tiga versi periwayatan pendapat. Versi pertama, yang dijadikan pegangan mayoritas Syafi’iyyah, sebagaimana pernyataan tekstual Imam Syafi’i, bahwa pengobatan dengan mwnggunakan benda najis selain khamr (arak dan minuman keras lainnya), adalah boleh, dengan dua catatan, (1) selama tidak terdapat obat lain yang suci dan halal digunakan, (2) dilakukan oleh orang yang pakar pengobatan yang tahu bahwa benda najis itu layak sebagai obat penyakit tertentu, atau berdasarkan rekomendasi ahli, dan memang tidak ditemukan obat lain yang suci. Sedangkan untuk khamr secara spesifik, haram penggunaannya sebagai obat jika kadarnya masih murni, tanpa campuran bahan lain yang menghilangkan penyebutannya sebagai khamr. Jika ramuan obat berkomposisi khamr dan campuran bahan lainnya, sekira kedua campuran tersebut tidak lagi dinamakan khamr, maka diperbolehkan sebagaimana staus hukumnya seperti benda nais lainnya.
Perincian di atas didasarkan adanya hadis lain yang menyimpulkan diperbolehkannya penggunaan obat dari benda najis, sebagaimana hadis berikut; Bahwa sekelompok orang dari kabilah Urainah menghadap Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk berbaiat masuk Islam. Karena tak dapat beradaptasi dengan cuaca di Madinah, mereka terserang penyakit, lalu mereka mengadu pada Rasul. Beliau bersabda, “Keluarlah bersama penggembala kami pada kawanan unta, lalu minumlah air kencing unta itu dan susunya”. Mereka pun melakukannya, dan sembuh. (HR. Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadis ini, diqiyaskan benda-benda najis lainnya.
Sebagaimana paparan di atas, kebolehan berobat dengan benda najis ini hanya jika tidak ditemukan obat lain yang suci. Karenanya, jika masih ada obat lain yang suci, maka haram hukumnya menggunakan obat dari benda najis. Dan, hadis tentang keharaman berobat dengan benda najis, sebagaimana di atas, diarahkan hanya pada kondisi ketika masih ada alternatif obat yang suci. Ini adalah bentuk kompromi diantara dua dalil yang ta’arudl (kontradiktif).
Khusus untuk khamr dan segala jenis minuman keras, haram meminumnya untuk pengobatan ataupun pelepas dahaga. Ini karena secara spesifik, Rasulullah melarang penggunaannya sebagai obat, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan dari Wail bin Hajar radliyallâhu anhu, bahwa Thariq bin Suwaid al-Ju’fi bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang khamr, lalu beliau melarangnya, atau tidak menyukainya, lalu Thariq berkata, “Saya membuatnya hanya sebagai obat”, kemudian beliau bersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ (رواه مسلم)

Sesungguhnya khamr (arak) itu bukanlah obat, akan tetapi penyakit (HR. Muslim)

Keharaman ini jika khamr yang digunakan sebagai obat, masih murni, tanpa campuran. Adapun khamr yang telah dicampurkan dengan bahan lain, sehingga campuran keduanya tidak lagi dinamakan khamr, maka boleh menggunakannya sebagai obat, sama seperti benda-benda najis lainnya. Tentu saja dengan catatan jika tidak ditemukan obat lain yang suci.
Versi kedua, tidak diperbolehkan secara mutlak, berdasarkan hadis yang melarang penggunaan benda haram sebagai obat sebagaimana di atas. Versi ketiga, boleh hanya terkhusus pada air kencing unta, sebagaimana keterangan dalam hadis di atas. Dua versi terakhir yang diriwayatkan Imam ar-Rafi’i ini adalah syadz yakni menyimpang dari pernyataan tekstual Imam asy-Syafi’i.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: