Beranda > Tahukah kamu?, Wawasan > Raja Hutan dalam Wacana Fiqh Fauna

Raja Hutan dalam Wacana Fiqh Fauna

Islam pada abad pertengahan, terutama pada masa dinasti Abbasiyah, dideskripsikan sebagai sebuah masa keemasan ilmu pengetahuan, dalam lingkup keilmuan syari’at maupun keilmuan “sekuler”. Dalam bidang biologi, khususnya sub bidang fauna, ada sebuah literatur populer yang disusun oleh salah seorang ulama’ abad pertengahan, Hayat al-Hayawan. Karya monumental buah pena Kamaluddin al-Damiri (w. 808 H./1405 M.) ini memberikan kesan positif bagi sejumlah kalangan, terutama para akademisi salaf (komunitas santri). Sebenarnya, selain Hayat al-Hayawan, terdapat sejumlah karya literatur tentang dunia fauna yang disusun oleh beberapa cendekiawan abad pertengahan, diantaranya adalah karya Demokratis, Aristoteles dan Abu Utsman ‘Amr bin Bahr Al-Jahizh (w. 255 H./868 M.). Karya terakhir ini mengundang minat Abu al-Qâsim Hibatullah bin al-Qâdli al-Rasyîd Ja’far (w. 608 H./1211 M.) dan Muwaffiq al-Baghdadi untuk menyusun resumenya (mukhtashar). Muwaffiq al-Baghdadi juga meresume karya tentang dunia fauna buah pena Ibn Abi al-Asy’ats[1]. Tulisan ini hendak mengungkap potret dunia fauna dalam bingkai khazanah klasik, khususnya karya besar Al-Damiri, Hayat al-Hayawan.

Kamaluddin al-Damiri dan Hayat al-Hayawan-nya:

Adalah Syaikh Kamaluddin Muhammad bin ‘Isa al-Damiri al-Syafi’i, seorang ulama’ abad pertengahan, yang secara inovatif telah menggulirkan karya unik berkaitan dengan dunia fauna. Penulis yang merupakan seorang faqih (juris) serta menguasai berbagai cabang keilmuan syari’at ini, ternyata juga memiliki pengetahuan tentang dunia hewan. Tidak seperti umumnya penulis klasik yang hanya akan memulai kegiatan penulisan setelah ada permintaan dan desakan dari para kolega, Al-Damiri menulis Hayat al-Hayawan ini dengan inisiatifnya sendiri. Dalam proyek ilmiahnya ini, ia menghimpun bahan dari tak kurang 560 buah buku yang dirampungkannya pada bulan Rajab 773 H./ Januari 1372 M.

Karena nilai keunikan yang dikandungnya, Hayat al-Hayawan menarik perhatian beberapa penulis untuk membuat karya resume, diantaranya yaitu :

  • ‘Ain al-Hayat, karya Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakar al-Damâmîni (w. 828 H./14245 M.).
  • Karya Umar bin Yunus bin Umar al-Hanafi.
  • Karya Syaikh Taqiyyuddin Muhammad bin Ahmad al-Fâsi (w. 832 H./ 1428 M.)
  • Bahjat al-Insân fî Mahjat al-Hayawân karya Ali al-Qâri (w. 1016 H./ 1607 M.), disusun pada tahun 1003 H./1594 M.
  • Dîwân al-Hayawaân karya Syaikh Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi (w. 911 H./1505 M.). yang rampung pada tahun 901 H./1495 M.
  • Terjemah Hayat al-Hayawan dalam bahasa Persi, karya Al-Hakim Syah Muhammad al-Qazwini.
  • Thayb al-Hayat karya Al-Qadli Jamaluddin Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Makki (w. 837 H./1433 M.)[2].

Raja hutan di mata Al-Damiri

Sejumlah pakar mengemukakan bahwa ada ratusan nama (genus) dengan karakter tertentu dalam pembagian keluarga singa (asad) (tentu saja menurut versi lokal Arab). Ibn Khalawaih menyebut kisaran angka 500-an, Ali bin Qasim bin Ja’far, seorang ahli bahasa, menambahkan 130-an lagi. Di antara nama-nama populer dalam lingkungan keluarga singa adalah Al-Usamah, Al-Harits, Al-Haidarah, Al-Ghadlanfar, Al-Qaswarah, Al-Laits, Al-Warad dan sejumlah nama lainnya[3].

Diantara jenis-jenis singa, sebagaimana paparan Hayat al-Hayawan, ada beberapa jenis singa yang tentu saja akan menarik perhatian kita, seperti diungkapkan Aristoteles. Ia berkata bahwa satu diantara jenis-jenis singa ada yang wajahnya mirip manusia, tubuhnya berwarna merah, dengan ekor mirip ekor kalajengking. Inilah yang disebut al-warad. Ada juga yang serupa dengan sapi (baqar), memiliki tanduk banyak yang berwarna hitam sepanjang sejengkal.

Selanjutnya, masih menurut Hayat al-Hayawan, jenis singa sebagai hewan buas sebagaimana yang kita kenal, memiliki beberapa karakteristik. Betina dari hewan mamalia ini hanya bisa melahirkan seekor anak singa. Bayi singa yang masih belum nampak berwujud singa dewasa ini amat lemah, tidak memiliki indra perasa, serta tidak dapat bergerak-gerak. Selama tiga hari bayi singa ini didekami induknya. Pada hari ketiga, jantannya datang memberikan pernafasan buatan pada bayi singa tersebut berkali-kali hingga sang bayi dapat bernafas, bergerak, memekarkan tubuhnya dan menampakkan bentuk sebagaimana layaknya singa-singa sejenisnya. Baru kemudian induk semangnya menyusuinya. Akan tetapi mata bayi singa tersebut masih terpejam, hingga setelah genap berusia tujuh hari, ia baru membuka matanya. Setelah genap berumur enam bulan, singa kecil itu harus segera belajar mencari makan sendiri. Masa dewasa sang anak singa ini ditandai dengan rontoknya gigi-giginya.

Sejumlah karakteristik lainnya diinventarisir dalam Hayat al-Hayawan ini. Diantaranya adalah bahwa singa cukup kuat menahan lapar dan haus dibandingkan dengan binatang buas lainnya. Dalam saat-saat lapar dan haus inilah naluri kebuasan binatang pemakan daging (karnivora) akan muncul. Bila hendak berburu mangsa, ia pantang memangsa buruan hewan lain. Mangsa yang telah didapatnya akan digigit dan ditelan begitu saja tanpa dikunyahnya. Karenanya, singa dikenal sebagai binatang bermulut bau (bakhar). Singa akan segera meninggalkan hewan buruannya jika telah merasa kenyang, sehingga sifat buasnya relatif mereda. Hal menarik dari si raja hutan ini adalah bahwa ia tidak akan mau minum dari bekas jilatan anjing, serta segan mendekat pada wanita yang sedang haid. Lebih aneh lagi, hewan yang dikenal tangguh (pemberani) – hingga menjadi ikon dan julukan tokoh-tokoh petarung pemberani – ini ternyata juga memiliki sifat penakut. Ia akan merasa kaget dan takut dengan suara kokok ayam jago, bunyi pukulan baskom (semacam aktivitas petani menggiling makanan), juga terhadap rase (sinaur). Terhadap nyala api pun, sang raja hutan ini ternyata amat penakut[4].

Sebagai binatang buas, keluarga singa haram untuk dikonsumsi. Karenanya, secara mendasar, Islam melarang membunuh jenis binatang ini. Sebab, pembunuhan hewan selain untuk kepentingan konsumsi adalah haram[5]. Adapun alasan pembunuhan jenis-jenis hewan buas, karena kekhawatiran menimbulkan bahaya (memangsa manusia misalnya), hal inipun sebenarnya tidak cukup beralasan. Karena sebagaimana paparan di atas, naluri kebuasan singa hanya akan muncul ketika rasa lapar menguasainya. Karenanya, Al-Damiri memberikan resep umum beserta sejumlah doa tatkala berhadapan dengan binatang buas ini. Ia menuturkan kisah Abdullah bin Umar bin Khaththab yang mengamankan seekor singa yang mengamuk di pemukiman, kemudian Ibn Umar menyitir sabda Rasulullah saw.: “Singa diperintahkan untuk menguasai (menakut-nakuti) manusia hanya karena manusia takut pada selain Allah, andai saja manusia tidak takut selain hanya pada Allah, singa tidak akan menguasainya.” [6]

Selanjutnya, Al-Damiri juga mengulas kutipan-kutipan para pakar tentang khasiat dan kegunaan tertentu dari singa yang sebagian diantaranya berbau mistik, sebagai berikut[7]:

@ Penolak binatang buas, dengan melumuri sekujur badan dengan lemak singa atau dengan campuran bawang, atau dengan membakar bulu singa di hadapan binatang buas.

@ Suara singa mampu melemahkan dan menundukkan buaya.

@ Penawar pingsan khusus bagi anak kecil, dengan mengalungkan sepotong kulit singa beserta bulunya

@ Dagingnya berguna untuk mengobati mati separuh.

@ Penolak kutu dan rayap pada pakaian, dengan meletakkan kulit singa dalam almari pakaian

@ Penawar sakit gigi, dengan membawa serta gigi singa

@ Sebagai penghangat saat cuaca dingin, dengan melumuri lemak singa pada sekujur tangan dan kaki

@ Penolak kutu dari badan, dengan melumuri lemak singa pada sekujur tubuh

@ Pengaman dari tipuan orang lain, dengan membawa serta ekor singa.

@ Penawar penyakir bawasir dan penyakit tulang, dengan duduk di atas kulit singa.

@ Penambah kewibawaan, dengan mengolesi wajah dengan ramuan lemak di antara kedua mata singa dicampur dengan minyak mawar.

@ Penajam penglihatan, dengan bercelak dengan pahitan singa.

@ Obat penyakit kuning, dengan meminumkan pahitan singa dicampur dengan ramuan air merica dan jenis sayuran na’na’.

@ Obat segala macam penyakit perut seperti mulas-mulas, qulanj[8], bawasir, disentri, dan penyakit rahim. Yakni dengan cara menggarami pelir singa dengan bauraq merah (sejenis campuran adonan yang menjadikan gembungan: boraks [9]) dan kemenyan Arab, lalu dikeringkan dan dilembutkan, kemudian dicampur sagu. Selanjutnya diminum dengan air panas.

@ Menghilangkan penyakit gemetaran, dan menggigil, dengan mengoleskan minyak zait yang disimpan lama, dicampur dengan adukan otak singa.

@ Penambah stamina, serta menghilangkan bintik merah kehitaman di wajah, jerawat dan segala macam bintik di wajah, dengan meminyaki wajah dan seluruh tubuh dengan lemak singa.

@ Mengobati panu luar, dengan kotoran singa yang dikeringkan, kemudian dicampur dengan obat gosok.

@ Penawar kecanduan minuman keras, dengan meminumkan cairan kotoran singa.

@ Obat amandel, dengan ramuan pahitan singa dan madu.

Demikianlah, sekilas tentang pengetahuan dunia fauna dalam khazanah klasik. Walau bagaimanapun, karya-karya semacam ini, mestinya menjadi salah satu diantara perbendaharaan keilmuan, yang bukan tidak mungkin, dari sana bisa digali fakta-fakta dan teori-teori yang mungkin untuk untuk dikembangkan dalam ranah pengetahuan dunia fauna modern. Wallahu a’lam.


[1] Musthafa bin Abdillah al-Qusthanthani, Kasyf al-Zhunûn, Mekkah: Al-Maktabah Al-Faishaliyyah, 1992, juz I hlm. 695-696.

[2] Ibid, hlm. 696

[3] Kamaluddin Muhammad bin ‘Isa al-Damiri, Hayat al-Hayawan, Beirut: Dar al-Fikr, tt., juz I hlm. 3

[4] Ibid

[5] Ibn Qudamah, Al-Mughni Syarh al-Kabir , Beirut: Dar Ihya’ Turats al-Arabi, tt., juz. IX hlm. 232; Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt., juz.II hlm. 26.

[6] Al-Damiri, op.cit., juz I hlm.3

[7] Ibid., juz I hlm. 10-11

[8] Qulanj, adalah sejenis penyakit perut, penyebabnya adalah menggumpalnya sari-sari makanan di usus hingga tidak dapat turun, yang karenanya, peredaran darah memuncak ke saraf otak. Penyakit ini merupakan satu diantara penyakit mematikan. Lihat Jalaluddin al-Mahalli, Syarh Minhaj al-Thalibin, Beirut: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, tt., juz III hlm. 165.

[9] Lihat Abu al-Makarim Nashir bin Abd al-Sayyid, Al-Mugharrab, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, hlm. 41

Kategori:Tahukah kamu?, Wawasan Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: