Beranda > Cangkruk, Opini > Urgensitas Pendidikan dalam Telaah Hadis (Studi kasus: hegemoni substansi sebuah hadits atas genealoginya)

Urgensitas Pendidikan dalam Telaah Hadis (Studi kasus: hegemoni substansi sebuah hadits atas genealoginya)

Adalah sebuah hal yang amat maklum, bahwa pendidikan adalah satu di antara kebutuhan primer manusia, dari era klasik hingga zaman modern seperti saat ini. Faktor potensi akal yang kompatibel dalam menerima pengetahuan di satu sisi, dan keberadaan manusia sebagai makhluk berperadaban di sisi lain, cukuplah menjadi alasan bahwa pendidikan adalah kebutuhan yang mutlak dipenuhi. Sebagai makhluk berperadaban, seorang anak manusia dituntut untuk berpola hidup dan bertingkah laku beradab. Sebagai sesuatu yang lebih bersifat abstrak keberadaban manusia bisa dicapai melalui penanaman nilai, yang didahului dengan proses transfer pengetahuan. Entah karena proses panjang yang belum – atau mungkin enggan untuk – dicapai, atau lebih dominannya proses transfer pengetahuan ini, istilah pendidikan lebih diarahkan pada sebuah proses belajar mengajar itu sendiri, bukan langkah derifativ yang berupa penanaman nilai.

Sebagai sebuah agama besar yang sarat dengan misi pengembanan moral, Islam memiliki konsepsi pendidikan yang kurang lebih sama dengan hipotesis di atas. Penanaman nilai – tentunya dengan standar eksklusifnya – merupakan tujuan akhir dari sebuah upaya pendidikan. Ketakwaan, yang dideskripsikan sebagai kepatuhan atas segala aturan, hanya bisa dicapai dengan mengetahui detil aturan itu. Karenanya, menuntut ilmu merupakan kewajiban utama dalam keberagamaan. Fiqh Islam, sebagai sebuah tata aturan baku rumusan para ulama’, pun juga turut “mengintervensi” keharusan menuntut ilmu ini dalam konsep normatifnya, sebagai hal yang fardlu. Tesis ini, dalam sejumlah keterangan, adalah hasil inferensi dari hadits Rasulullah saw. yang amat populer, yakni :

طلب العلم فريضة على كل مسلم  – رواه ابن ماجه

Menuntut ilmu adalah kewajiban utama atas setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)[1].

Saking populernya, hingga hampir-hampir kita, tidak berpikir mengenai eksistensi genealogi (sanad) serta status hadits ini. Bagi kalangan awam, bahkan para cendekiawan yang tidak memiliki kompetensi optimal dalam disiplin ilmu hadits, akan begitu saja menerima tanpa reserve, dan akan semakin tercengang tatkala dalam sejumlah literatur dinyatakan bahwa semata-mata hadits ini, ternyata tidak dapat dijadikan argumen hukum. Al-Nawawi mengungkapkan bahwa hadits ini, meski maknanya sahih, namun statusnya adalah ghair tsâbit (tidak shahih)[2]. Al-Subuki juga berkomentar yang kurang lebih sama. Ia mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Hisyam bin ‘Ammâr dari Hafsh bin Salmâ dari Katsîr bin Syanzhîr dari Muhammad bin Sîrîn dari Anas bin Mâlik dari Rasulullah saw. Sedangkan Katsîr bin Syanzhîr, masih menurut Al-Subuki, status keterpercayaannya masih diperdebatkan[3]. Muhammad bin Muflih bin Muhammad al-Muqaddasi, seorang ulama’ madzhab Hanbali memberikan keterangan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Syâhîn dari Sulaymân al-Asy’âts dari Hafsh bin Musâfir al-Syîsyî dari Yahyâ bin Hisân dari Sulaymân bin Qarm dari Tsâbit dari Anas bin Mâlik dari Rasulullah saw. Semua perawi adalah tsiqah kecuali Sulaymân, dia adalah perawi yang masih diperdebatkan keterpercayaannya. Ahmad berkata: “Saya melihatnya tidak sebagai masalah, hanya saja ia terlalu fanatik sebagai seorang Syi’ah”. Status Sulaymân juga di-dlâ’if-kan oleh Ibn Mu’in. Senada dengan komentar-komentar ini adalah komentar Abû Zar’ah, Abû Hâtim dan Al-Nasâ’i. Hanya saja, Ibn ‘Adiy berpendapat bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan Sulaymân adalah hasan[4].

Dari beberapa keterangan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa pengungkapan hadits tanpa menyebutkan sanad, telah menjadi sebuah kebiasaan, yang sampai pada taraf “memprihatinkan”. Beberapa keterangan tentang status hadits di atas menjadi bukti konkret dari asumsi ini. Contoh lain, adalah ungkapan

النظافة من الإيمان

Kebersihan adalah sebagian dari iman

حب الوطن من الإيمان

Cinta tanah air adalah sebagian dari iman

Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang diduga sebagai hadits, tanpa lebih lanjut mengklarifikasikan keberadaan dan kekuatan hukumnya.

Kedua, bahwa tatkala kebenaran kandungan hadits telah menjadi kesepakatan umum, upaya klarifikasi lebih lanjut mengenai keberadaan dan status hadits tampaknya menjadi “tidak begitu penting”. Bukti sederhana dari hal ini adalah pernyataan ulama bahwa hadits dla’if dapat menjadi acuan dalam konteks fadlâ’il al-a’mâl (keutamaan amal), bukan dalam konteks normatif hukum maupun teologi.

Dari paparan singkat di atas, agaknya bukan hal yang berlebihan jika kalangan ulama’ hadits khususnya, dan para pemerhati disiplin ilmu syari’at, memberikan porsi perhatian lebih dalam takhrîj al-ahâdîts, hingga tidak muncul kesan “hegemoni” substansi hadits atas genealogi (sanad)nya.


[1] Dalam sebagian redaksi, terdapat tambahan wa muslimat. Lihat Barîqah Mahmûdiyyah juz I hlm. 251.

[2] Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab juz I hlm. 49.

[3] Fatâwî al-Subuki, juz II hlm. 738

[4] Al-Âdâb al-Syar’iyyah juz II hlm. 36.

  1. mami
    13 Oktober 2011 pukul 13:14

    salam kenal buat pak ibnu…
    Keren abiz deh pokoknya…,
    sekedar usul gimana kalau ditambahan diskusi wawasan keagamaan yang bisa diterapkan di negri ini….
    makasih……

    • 21 Oktober 2011 pukul 23:10

      Salam balik Bang Mami….
      Makacih pujian en masukannya.. masalahnya, Qt masih amatiran. pake forum, caranya gimana yua??? hehehe

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: