Beranda > Akidah & Aswaja, Ngaji > Status keimanan Ortu Nabi

Status keimanan Ortu Nabi

Hal memprihatinkan dari ulah kelompok yang pede menamakan diri Salafi alias Wahabi, adalah vonis takfir (mengkafirkan) yang kebablasan. Vonis takfir secara serampangan tidak saja mereka tujukan pada kaum muslimin yang bertawassul dan beristighatsah, bahkan kedua orang tua Rasul yang mulia pun dituduhnya kafir. Astaghfirullah… Mereka dengan gencar mempropagandakan keyakinan ini, seakan-akan keyakinan bahwa Sayyid Abdullah bin Abdul Muthallib dan Sayyidah Aminah binti Wahhab adalah orang kafir, merupakan keyakinan yang wajib diimani oleh setiap muslim.

Kaum Salafi hanya bermodal hadits riwayat Muslim berikut,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas, bahwasanya seseorang berkata; “Wahai Rasulullah, dimanakah bapakku?” Rasulullah Saw bersabda; “Di dalam neraka.” Maka ketika orang itu beranjak pergi Rasulpun memanggilnya maka Rasul berkata; “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di dalam neraka.” (HR. Muslim)

Sebenarnya, hadits tersebut hanyalah menceritakan seorang Arab Badui yang menanyakan status bapaknya yang telah wafat namun belum menyatakan iman, apakah tempatnya di neraka atau di surga? Kita tidak bisa memahami hadits di atas dengan langsung mengambil zhahirnya begitu saja, tanpa perbandingan dengan nash-nash yang lain dan tanpa analisa serta renungan yang mendalam. Ada beberapa penjelasan dalam menyikapi hadits di atas. Berikut ringkasan kesimpulan penjelasan dari Imam As-Suyuthi:

  1. Ungkapan Nabi, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di dalam neraka.”, tak lebih dari sekedar keluwesan beliau. Beliau tidak ingin sang penanya tersebut sedih dan kecewa dengan jawabannya. Terlebih si penanya adalah orang pelosok, lemah iman, susah paham dan gampang kembali pada kemurtadan. Ini dibuktikan dengan bahwa ungkapan beliau “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di dalam neraka.”, diucapkan setelah jawaban pertama beliau, dan setelah sang penanya berpaling pergi dalam keadaan sedih. Rasul pun dengan susah-susah memanggilnya kembali.
  2. Sedangkan maksud dari kata-kata “bapakku” dari Rasul, bisa jadi yang dikehendaki adalah makna “paman”. Karena seringkali dalam kultur Arab, untuk memanggil paman digunakan ungkapan kata “Bapak”. Inilah bentuk Tauriyyah.
  3. Orang yang mati dalam masa fatrah (masa tidak adanya Rasul), jika belum sampai padanya dakwah tauhid, maka dia tidak dikategorikan kafir. Dan jika telah sampai padanya dakwah tauhid, dan dia adalah seorang penyembah berhala, maka dia akan masuk neraka (tergolong kafir). Sehingga, jika dia tak menyembah berhala, maka tentu saja dia tidak tergolong kafir. Sedangkan, kedua orangtua Rasulullah adalah seorang pemeluk agama hanif (ajaran Nabi Ibrahim) yang berpokok tauhid, tak pernah sekalipun menyembah berhala.

 

  1. faiz
    10 Juni 2012 pukul 19:36

    apakah lafad hadisnya memang semacam itu pak ustad???

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: