Beranda > Ngaji, Tabligh > Tali itu, Mari Berpegangan padanya…

Tali itu, Mari Berpegangan padanya…

Sejarah mencatat, betapa saat Islam datang, ajarannya mampu menyatukan suku-suku di jazirah Arab, yang sebelumnya seringkali berseteru dan suka berperang. Kedatangan Islam menyatukan mereka dalam ikatan persaudaraan luhur seakidah dan sekeyakinan.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا (آل عمران 103)

Dan berpeganganlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai. Dan ingatlah nikmat Allah, di saat kalian saling bermusuhan, kemudian Dia mendamaikan di antara hati kalian, lalu dengan nikmat-Nya kalian bersaudara. (QS. Ali Imran 103)

Tali persaudaraan inilah yang seharusnya mengikat kaum muslimin di bawah naungan panji Islam. Dan tali persaudaraan inilah yang seharusnya menjadi ruh penyemangat kita dalam meniti berliku-likunya jalan kehidupan dengan tetap berpegangan pada sendi-sendi ajaran yang dibawa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam.

Namun, layaknya sebuah episode perjalanan hidup, layaknya dinamika dalam sebuah komunitas masyarakat, akan selalu terjadi riak-riak kecil, bahkan mungkin juga gelombang besar yang menguji kokohnya bangunan bahtera kaum muslimin. Sebagian diantara hal yang patut diwaspadai adalah merebaknya informasi tak bertanggung jawab dari kalangan fasiq atau orang-orang yang taat beribadah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (الحجرات 6)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Sejarah pada awal generasi Islam pun juga selayaknya menjadi pelajaran bagi kita semua. Betapa akibat ceroboh dalam menyikapi sebuah informasi, terjadilah kegoncangan hebat di kalangan kaum muslimin saat itu. Yakni haditsul ifki, gosip yang melanda Ummul mukminin Sayyidah A’isyah radliyallahu anha.

Maka, dalam konteks hubungan keummatan dalam tubuh kaum muslimin saat ini, demikian pula dalam proses pendewasaan diri dalam berbangsa dan bernegara dewasa ini, perlu dikembangkan tradisi tabayyun atau klarifikasi dalam setiap informasi yang berkembang di masayarakat. Jika ada informasi negatif tentang diri dan kepribadian orang atau pihak lain, terlebih lagi sesama saudara muslim, maka prinsip husnudh dhann atau praduga tak bersalah, harus menjadi pijakan awal dalam menyikapinya, sebelum kemudian melakukan tabayyun. Terkait dengan gosip yang melanda Sayyidah Aisyah radliyallahu anha, Allah berfirman,

لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (النور 12)

Artinya: Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS. An-Nur :12)

Hal selanjutnya yang hendaknya juga diwaspadai oleh kaum muslimin adalah tajassus atau mencari-cari kesalahan orang lain, dan ghibah atau menggunjing. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (الحجرات 12)

Artinya, Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat di atas, dijelaskan bahwa tatkala prasangka buruk dilarang oleh Allah ta’ala,  bukan berarti seseorang diharuskan mencari kepastian tentang kebenaran dari berita yang beredar terkait buruknya kepribadian seseorang, yang akhirnya timbullah tajassus, atau mencari-cari kesalahan orang lain. Jika berita yang beredar tak membutuhkan tabayyun atau klarifikasi, dikarenakan terkait privasi seseorang, maka tak perlu lah antar sesama saling mencari-cari kesalahan. Justru kaum muslimin diperintahkan untuk menutupi aib atau kesalahan pribadi orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan orang lain atau kepentingan umum. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu anhu, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةَ مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا , نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ , وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدِّينَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ (رواه مسلم)

Artinya: Barangsiapa melapangkan dari orang mukmin sebagian kesempitan diantara kesempitan-kesempitan dunia, maka Allah akan melapangkan darinya sebagian kesempitan diantara kesempitan-kesempitan di hari akhirat. Barangsiapa memudahkan atas orang yang kesusahan, maka Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong hamba-Nya, selama hamba menolong saudaranya (HR. Muslim)

Adapun ghibah atau menggunjing, maka inilah satu di antara dosa yang oleh Imam An-Nawawi dikategorikan dalam dosa besar yang seakan menjadi konsumsi keseharian di sekitar kita. Dalam surat Al-Hujurat ayat 12 di atas, disebutkan bahwa menggunjing terhadap saudara seiman sama halnya dengan memakan daging saudaranya tersebut dalam keadaan mati. Jika seseorang dipotong dagingnya akan terasa sakit, maka akan lebih sakit lagi jika dia dipotong kehormatannya. Mengapa disebut dalam keadaan mati? Karena seorang yang mati dipotong anggota tubuhnya tidak akan terasa, dan andaikan dia hidup, maka sakit sekali rasanya. Demikian pula orang yang digunjingkan, saat dia tak hadir dalam arena pergunjingan mungkin tak terasa tersakiti kehormatannya, tapi andaikan dia hadir di arena pergunjingan, pastilah akan terasa sakit sekali hatinya. Diriwayatkan Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam saat menjelaskan tentang hakikat ghibah, beliau bersabda, “adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai”. Lalu ada shahabat yang bertanya, “Bagaimana menurut Anda, jika pada diri saudara saya tersebut memang benar-benar terdapat sifat sebagaimana yang saya sebutkan?”, Beliau menjawab, “Jikalau pada dirinya memang terdapat sifat yang engkau sebutkan, maka engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak tidak ada, maka engkau telah membuat kebohongan”. (HR. Muslim)

 

Jikalau memang terjadi perselisihan diantara kaum muslimin, semestinya hal ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Harus segera diupayakan jalan ishlah atau perdamaian diantara keduanya. Karena sesama muslim adalah bersaudara. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات 10)

Artinya: Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat : 10)

Jalan ishlah akan lempang terbuka, jika masing-masing pihak saling mengalah, dan mencari titik temu penengah diantara dua kepentingan yang menjadi pangkal sengketa. Ini akan terwujud jika masing-masing pihak tidak mencela, mengolok-olok dan menganggap rendah pihak lain. Serta dia tidak merasa tinggi diri dan paling benar, apalagi paling baik di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (الحجرات 11)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat 11).

Jika sikap tinggi diri atau sombong ini telah mewarnai kesadaran seorang muslim, maka inilah awal kehancurannya. Sebagaimana pula iblis terlaknat oleh Allah dan terusir dari sorga akibat sikap tinggi dirinya terhadap Nabi Adam alahissalam. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa terhadap siapapun, kita tak selayaknya menyombongkan diri. Karena kita tahu dengan keadaan bagaimana hidup kita berakhir, husnul khatimah-kah, ataukah su-ul khatimah ? Tetap dalam keimanan-kah, ataukah hidup kita berakhir tanpa membawa iman ? Naudzu billah min dzalik. Semoga Allah meneguhkan keimanan kita dan saudara-saudara kita seiman. Mudah-mudahan Allah mengukuhkan kaum muslimin dalam ikatan yang agama-Nya yang kuat. Amiin.

Tulisan ini pernah dimuat di warkopmbahlalar.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: