Beranda > Cangkruk, Sastra > Surat Sayang Yang Maha Penyayang

Surat Sayang Yang Maha Penyayang

* diambil dari catatan Facebook seorang sejawat

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu, dan berharap engkau akan berbicara kepadaKU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapat-Ku atau berterimakasih kepada-Ku atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin. Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap. Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Ku. Tapi engkau seperti terlalu sibuk dan tak punya waktu.

Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku lihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau akan berbicara kepada-Ku, tapi ternyata engkau berlari ke tempat telepon dan menghubungi seorang teman untuk mendengar kabar terbaru.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja, dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku.

Sebelum makan siang, Aku melihatmu memandang sekeliling. Mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Ku. Dan itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja makan sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut
nama-Ku dengan lembut sebelum menyantap rizki yang Aku berikan. Tetapi engkau tidak melakukannya.

Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan sudi berbicara kepada-KU, meskipun hanya sepatah dua patah kalimat dzikir. Tapi saat engkau pulang ke rumah, kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV. Engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu. Tetapi kembali engkau tidak berbicara apapun kepada-Ku.

Saat tidur, Aku pikir engkau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, engkau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatah pun nama-Ku kau sebut.

Engkau menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarimu bagaimana bersabar terhadap orang lain dan segala beban. Aku sangat menyayangimu. Setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa, dzikir, atau syukur dari bibir dan hatimu.

Keesokan harinya, engkau bangun kembali, dan kembali Aku menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapa-Ku. Tapi yang Aku tunggu, tak kunjung tiba. Tak juga kau menyapa-Ku.

Subuh, Dzuhur, Ashar,
Magrib, Isya’ dan Subuh kembali, kau masih
mengacuhkan AKU. Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, dan tak ada sedikit rasa, tak ada kekhusyukan, harapan dan keinginan untuk ingat dan bersimpuh sujud kepada-Ku. Apa salah-Ku padamu, wahai hamba-KU???

Anugerah rizki yang Aku limpahkan, kesehatan yang Aku berikan, harta yang Aku bagikan, makanan dan minuman yang Aku hidangkan, anak, istri, suami yang Aku karuniakan, apakah semua kenikmatan itu tidak sedikitpun menggerakkan pikiran dan hatimu ingat kepadaKU??!

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-Ku, memohon
perlindungan-Ku, bersujud menghadap-Ku. Aku, yang selalu menyertai, mengasihi dan mencintaimu, setiap waktu.

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA TAHUN 1432 H.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: