Beranda > Ngaji, Tabligh > Hikmah Puasa

Hikmah Puasa

Marhaban ya Ramadhan, selamat datang bulan Ramadhan! Demikian kiranya yang harus diucapkan kaum muslimin menyambut datangnya bulan Ramadhan penuh berkah ini. Kegembiraan yang seharusnya tak cukup hanya diungkapkan melalui ucapan, karena kesempatan menemui bulan Ramadhan adalah kenikmatan agung tiada tara. Bulan di mana Allah membuka lebar-lebar pintu rahmatNya, menutup rapat-rapat pintu neraka, membelenggu syaithan dan mempersempit ruang gerak mereka, melipatgandakan pahala kebaikan, menjanjikan ampunan dosa dan aneka macam kebaikan yang telah disiapkan Allah Yang Maha Menepati Janji.

Banyak momen penting berkaitan dengan bulan suci ini, diantaranya adalah kewajiban berpuasa Ramadhan, satu diantara lima pilar dasar penegak agama Islam. Dengan ibadah puasa, Allah Yang Maha Bijaksana menghendaki beragam kebaikan dipetik oleh hamba-hambaNya. Setidaknya, ada empat hal yang bisa dipetik dari hikmah ibadah ini.

Pertama,  puasa adalah sarana penggugah rasa syukur kepada Allah. Dengan berpuasa seseorang menghindarkan diri dari makan, minum dan hubungan seks, padahal ketiganya merupakan nikmat paling mendasar. Dan, dengan menghindar dari hal-hal tersebut, akan diketahui sejauh mana arti penting sebuah nikmat. Karena, arti penting sebuah nikmat hanya bisa diukur dan dirasakan oleh seseorang yang kehilangan nikmat tersebut. Seorang baru akan merasakan nikmatnya memiliki gigi sehat, setelah dia diserang kenyerian dan kengiluan sakit gigi, bahkan baru sejam saja, ia rasakan seperti telah berhari-hari mengalami sakit gigi. Orang yang sesak nafas, akan merasakan arti pentingnya pernafasan yang normal setelah sesaat saja merasakan sesak nafas. Dengan puasa pun, seseorang akan merasakan betapa pentingnya nikmat berupa bisa makan minum tiap hari, sehingga akan muncul rasa syukurnya.

Betapa banyak orang merasa kurang puas dengan kehidupannya saat ini, padahal, selain mereka, bisa jadi masih jauh lebih banyak yang minim peruntungannya. Betapa banyak orang merasa mengeluh karena ditimpa musibah, padahal selain mereka, bisa jadi jauh lebih banyak yang tertimpa sengsara. Padahal, seperti diungkapkan Rasulullah saw., tanda orang bahagia adalah bahwa dalam masalah keduniaan, memandang orang lain yang nasibnya berada di bawahnya.

Kedua,  puasa adalah sarana pengantar taqwa, sebagaimana ditegaskan Allah (QS: Al-Baqarah 183). Karena jika seseorang telah mengekang keinginannya dari hal-hal yang dihalalkan, seperti makan makanan halal, minum minuman halal, serta menyalurkan hasrat biologisnya secara halal, yakni dengan melakukan puasa karena semata memenuhi perintah Allah, maka sudah sepantasnyalah ia mengekang diri dari hal-hal yang diharamkanNya. Apalagi, ibadah puasa adalah ibadah “adamiyyah”, ibadah yang tak nampak. Tidak makan, tidak minum, tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya, tiada yang mengetahui apakah seseorang melakukan puasa selain Allah. Jika ini dilakukan, berarti puasa merupakan pelatihan jiwa disiplin, meski tidak seorang pun tahu jika ia melanggar atau mengabaikannya.

Ketiga, puasa merupakan refleksi solidaritas sosial yang akan memunculkan sikap kasih sayang terhadap penderitaan kaum fakir miskin. Karena dengan berlapar-lapar puasa, seseorang akan merasakan sakitnya rasa lapar. Mungkin saat siang hari, terasa lapar, padahal tadi malam ia masih sempat makan sahur dan nanti saat menjelang maghrib juga telah tersedia beraneka macam makanan untuk berbuka, sementara kaum fakir miskin yang tidak memiliki sesuatupun unuk dimakannya, bisa jadi merasakan sakitnya kelaparan berhari-hari lamanya. Dengan puasa, seseorang akan membuktikan sendiri rasa lapar, yang sehingga dapat menggugah rasa solidaritasnya pada kaum fakir miskin dengan bersedekah kepada mereka. Puasa merupakan sarana penajaman sense of crisis, kepekaan sosial di masa-masa seperti dialami bangsa Indonesia saat ini.

Keempat, puasa sebagai sarana penekan syaithan terkutuk. Karena dengan berpuasa seseorang melatih mengendalikan syahwat dari hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. Padahal, syahwat merupakan kendaraan syaithan dalam mengendalikan manusia untuk melakukan tindakan-tindakan sesat dan salah. Sedangkan syahwat seorang anak manusia akan menguat dengan makan dan minum. Sebagaimana sabda Rasul: “Sesungguhnya syaithan menguasai anak cucu Adam melalui jalur peredaran darahnya, maka persempitlah ruang geraknya dengan rasa lapar” (HR. Bukhari dan Muslim). Dikisahkan, bahwa dahulu semenjak Allah menciptakan nafsu, Dia menguji kadar ketaatan makhlukNya ini dengan memberi perintah. Namun berkali-kali nafsu mungkir. Kemudian Allah menanyainya tentang hakikat kedudukannya di hadapan Allah. Sang nafsu pun enggan mengakui kehambaannya. Disiksa dengan api neraka seratus tahun pun tetap tak berubah. Akhirnya, Allah menyiksanya dengan rasa lapar selama seratus tahun, baru sang nafsu patuh dan mengakui kehambaanNya.

Sudah saatnya, puasa kita tak hanya sekedar ritualitas pengalihan jam makan, tanpa penghayatan mendalam hikmah dan esensi ibadah ini. Sudah saatnya kita mem-puasa-kan keinginan kita yang serakah, tak kunjung bersyukur dengan keberadaan yang dianugerahkan pada kita. Sudah saatnya kita mem-puasa-kan ambisi-ambisi kemaruk tanpa mempedulikan norma-norma dan jeritan kepedihan sang lemah. Sudah saatnya kita mem-puasa-kan hati kita yang kerap berpamrih kotor tatkala melakukan “kebajikan”, sering menjilat atasan dan menipu bawahan dengan perbuatan baik yang sekedar lipstik. Sudah saatnya kita mem-puasa-kan perasaan kita, dengan merasai sedalam jiwa akan penderitaan orang-orang lemah, untuk kemudian mengentas mereka, bersama dalam suka dan duka. Sudah saatnya, puasa kita berbuah peningkatan taqwa, saleh ritual sekaligus saleh sosial. Mudah-mudahan, Ramadhan tahun ini adalah momen tepat yang tidak kita lewatkan begitu saja. Karena belum tentu Ramadhan tahun depan dapat kita temui. Semoga Allah memberikan petunjukNya dan mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun mendatang. Amin.

Kategori:Ngaji, Tabligh Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: