Umar bin Khathab yang Tegas pun Lembut pada Isterinya

26 Januari 2012 Tinggalkan komentar

Kisah ini ditulis dalam kitab Uqudullujain,

Diriwayatkan, bahwa ada seorang lelaki mendatangi Umar bin Khaththab radliyallahu anhu, untuk mengadukan tentang perangai buruk isterinya. Ia menunggu Umar di depan pintu rumah. Kebetulan lelaki itu mendengar isteri Umar sedang memarahinya, sementara Umar diam saja tak menanggapinya. Lalu orang itu pulang dan dan berkata (dalam hati): “Jika keadaan Amir al-Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan saya ?.”
Tak lama kemudian Umar keluar dan melihatnya berpaling. Lalu Umar memanggilnya: ” Apa keperluanmu ?”
Lelaki itu menjawab: “Wahai Amir al-Mukminin, sebenarnya saya datang untuk mengadukan perangai dan perbuatan isteri saya kepada saya, namun saya mendengar hal yang sama terjadi pada isteri tuan, akhirnya saya beranjak pulang dan berkata (dalam hati): “Jika keadaan Amir al-Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan saya ?”.
Baca selanjutnya…

Lima Hikmah dalam Setiap Musibah

3 Agustus 2011 Tinggalkan komentar

Al-Ghazali memaparkan bahwa dalam setiap kefakiran, penyakit, rasa takut dan musibah di dunia, terdapat lima unsur yang harus direspon dengan rasa suka cita dan syukur atasnya.

 

Pertama, dalam setiap musibah yang menimpa, pastilah dapat dibayangkan adanya musibah tingkatnya lebih dahsyat dari itu. Maka seseorang yang tertimpa musibah hendaknya bersyukur karena tingkat musibah yang menimpanya bukanlah yang paling dahsyat. Masih ada musibah yang lebih dahsyat yang menimpa terhadap orang lain. Baca selanjutnya…

Kategori:Ngaji, Tabligh Tag:,

ABÛ SYUJA’ DAN MATAN AL-TAQRÎB

Abu al-Thayyib Ahmad bin al-Husayn bin Ahmad al-Ashfihâni adalah nama lengkapnya, populer dengan sebutan Abû Syuja’. Terlahir di Basrah pada tahun 433 H. (ada yang mengatakan 434 H.) Selain alim, ulama’ pengarang kitab matan Al-Taqrîb ini adalah seorang yang shaleh, dermawan dan rendah hati. Saat bermukim di Madinah, beliau sering menyapu masjid Nabawi, menyalakan lampunya serta merawat makam Rasul yang mulia. Sempat juga memegang jabatan Qadli dan Wazir. Beliau tutup usia pada tahun 488 H. (ada yang mengatakan tahun 500 H. Dan 593) dan dimakamkan di masjid dekat makam Rasul. Baca selanjutnya…

Tantangan Aswaja di Tengah Arus Perubahan

Beberapa tahun terakhir, khususnya sejak menjelang kelahiran era reformasi, bangsa Indonesia mengalami krisis multidimensional. Bermula dari krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi secara global, krisis politik, krisis sosial, krisis keamanan, hingga yang paling kita khawatirkan adalah krisis moral dan akidah. Arus informasi, melalui media elektronik dan cetak, dan internet seolah diposisikan sebagai guru yang harus digugu dan ditiru. Sadar atau tidak, faktanya, budaya Barat telah menjajah kita. Konsep kapitalisme dan liberalisme ala Barat sedikit demi sedikit merambah pada masyarakat kita. Benarkah ini sebagian dari tanda Kiamat sudah dekat ? Yang jelas, Rasulullah SAW. pernah bersabda: Baca selanjutnya…

AL-GHAZALI DALAM PENCARIAN KEBENARAN

Kawasan Iraq sebagai pusat pemerintahan kekuasaan Islam pada zaman pertengahan, merupakan muara pertemuan beraneka ragam budaya, peradaban dan agama. Tak kurang, kultur bangsa Persia, India, Suryani, serta penganut Yahudi dan Nasrani, ditambah dengan tradisi pemikiran rasional bangsa Yunani, berasimilasi dengan budaya Islam berbasis semenanjung Arab. Latar belakang sosial dan budaya yang heterogen ini memunculkan iklim keilmuan yang berkembang pesat. Kemajuan ilmu pengetahuan yang bukan saja terkonsentrasi pada keilmuan syari’at, tetapi juga merambah pada bidang sains dan teknologi, diklaim sebagai masa keemasan dan kejayaan Islam. Di satu sisi, situasi semacam ini mendorong terjadinya lompatan-lompatan pemikiran hingga melampaui batas doktrin konvensional ajaran Islam. Baca selanjutnya…

KOREKSI DIRI

Dalam setiap masa, koreksi diri harus senantiasa kita lakukan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Begitu pula, esok harus lebih baik dari hari ini. Jika hari ini tidak ada peningkatan atau sama seperti hari kemarin, maka kerugianlah yang kita dapati. Apalagi jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, laknatlah yang akan kita terima. Al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa Abdul Aziz bin Abi Rawwad dipetuahi oleh Rasulullah SAW. dalam mimpi:

مَنْ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ وَمَنْ كَانَ أَمْسُهُ خَيْرًا مِنْ يَوْمِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى الزِّيَادَةِ فَهُوَ فِي النُّقْصَانِ فَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ وَمَنِ اشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَارَعَ إِلَى الْخَيْرَاتِ (رواه البيهقي)

Barangsiapa dua harinya (hari ini dan hari kemarin) sama, berarti dia telah merugi. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, berarti dia terlaknati. Barangsiapa yang tidak mendapatkan tambahan, maka dia mengalami kekurangan, dan mati baginya adalah lebih baik. Barangsiapa rindu akan surga, pastilah bersegera menuju kebajikan. Baca selanjutnya…

Aktifitas dan Aktivitas

11 Februari 2012 Tinggalkan komentar

Bentuk aktifitas dan aktivitas tidak akan tampak perbedaannya bila dilafalkan. Namun, bila kedua bentuk tersebut terdapat dalam tulisan, kita akan dapat melihat perbedaannya.

Bentuk aktifitas ditulis dengan menggunakan huruf “ f ”, sedangkan aktivitas menggunakan huruf  “ v ”.  Sebagai penutur bahasa yang cermat, tentu saja kita akan bertanya manakah di antara kedua bentuk tersebut yang benar. Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus mengingat kembali kaidah tentang penyerapan kata asing. Baca selanjutnya…

Tiga Hikmah dalam Momentum Maulid Nabi SAW

2 Februari 2012 Tinggalkan komentar

Adalah nikmat yang agung bagi manusia, bahkan alam semesta, pada bulan Rabi’ul Awal, 14 abad silam, terlahir seorang anak manusia yang kelak akan membawa pengaruh besar bagi peradaban dunia. Seorang bayi dari bangsa Arab yang oleh kakeknya diberi nama Muhammad, terpuji di bumi, tersanjung di langit. Muhammad SAW. diutus Allah untuk menyempurnakan perilaku mulia manusia. Tatkala manusia sebagai makhluk beradab berada di ambang kehancuran. Sungguh, kelahiran dan terutusnya beliau adalah rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman : Baca selanjutnya…

Menyikapi Pemimpin yang Lalim

1 Februari 2012 2 komentar

Kepemimpinan adalah suatu keniscayaan. Sebuah komunitas masyarakat tanpa pemimpin, hampir dipastikan akan terjadi kekacauan. Di saat-saat ini kita amat merindukan kehadiran seorang pemimpin yang mampu melindungi, mengayomi, mengatur, menyejahterakan dan melayani terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin adalah naungan Allah, dan ke sanalah orang-orang teraniaya berlindung.

Rasulullah SAW. bersabda:

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِيْ أَرْضِهِ يَأْوِيْ إِلَيْهِ الْمَظْلُوْمُوْنَ

Pemimpin adalah naungan Allah yang ada di bumi-Nya, kepadanya orang-orang teraniaya berlindung.

Dan, hari-hari pemimpin yang adil lebih baik dari 60 tahun melakukan amalan ibadah. Rasulullah SAW. bersabda : Baca selanjutnya…