Arsip

Arsip untuk Januari, 2012

Lima Tips Cepat Menghafal

28 Januari 2012 2 komentar

Dalam Kitab Durratun Nashihin, terdapat tips agar cepat menghafal.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُلَازِمَ خَمْسَ خِصَالٍ : الأُوْلَى صَلَاةُ اللَّيْلِ وَلَوْ رَكْعَتَيْنِ ، وَالثَّانِيَةُ دَوَامُ الْوُضُوْءِ ، وَالثَّالِثَةُ التَّقْوَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ ، وَالرَّابِعَةُ أَنْ يَأْكُلَ لِلتَّقَوِّي لَا لِلشُّبْهَةِ ، وَالْخَامِسَةُ السِّوَاكُ

Barangsiapa menghendaki menghafal ilmu, maka hendaknya dia melanggengkan lima hal,

Pertama, shalat malam walaupun dua rakaat

Kedua, selalu dalam keadaan memiliki wudlu

Ketiga, bertaqwa dalam keadaan sendirian atau dengan khalayak ramai

Keempat, makan dengan tujuan sebagai bekal ibadah, bukan karena memenuhi selera

Kelima, bersiwak.

Categories: Ngaji, Referensi & Literatur Kaitkata:,

Umar bin Khathab yang Tegas pun Lembut pada Isterinya

26 Januari 2012 Tinggalkan Komentar

Kisah ini ditulis dalam kitab Uqudullujain,

Diriwayatkan, bahwa ada seorang lelaki mendatangi Umar bin Khaththab radliyallahu anhu, untuk mengadukan tentang perangai buruk isterinya. Ia menunggu Umar di depan pintu rumah. Kebetulan lelaki itu mendengar isteri Umar sedang memarahinya, sementara Umar diam saja tak menanggapinya. Lalu orang itu pulang dan dan berkata (dalam hati): “Jika keadaan Amir al-Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan saya ?.”
Tak lama kemudian Umar keluar dan melihatnya berpaling. Lalu Umar memanggilnya: ” Apa keperluanmu ?”
Lelaki itu menjawab: “Wahai Amir al-Mukminin, sebenarnya saya datang untuk mengadukan perangai dan perbuatan isteri saya kepada saya, namun saya mendengar hal yang sama terjadi pada isteri tuan, akhirnya saya beranjak pulang dan berkata (dalam hati): “Jika keadaan Amir al-Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan saya ?”.
Read more…

Persaudaraan, Buah Akhlaq Mulia

26 Januari 2012 Tinggalkan Komentar

persaudaraan

Satu diantara buah dari akhlaq yang baik adalah rasa persaudaraan, kecintaan dan sepenanggungan. Sebagaimana buah dari akhlaq yang tercela adalah kemunafikan, kebencian, serta iri dan dengki. Persaudaraan yang dibangun dari pondasi kemuliaan akhlaq dan ketakwaan bukanlah sekedar etika basa-basi, atau respon balik dari sikap yang sama. Melainkan persaudaraan yang muncul dari lubuk hati dan merupakan ekspresi keimanan. Dalam sebuah hadis diungkapkan:

 

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : يَا أَبَا هُرَيْرَةَ عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ , قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : وَمَا حُسْنُ الْخُلُقِ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتَعْفُوْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ (رواه البيهقي)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Abu Hurairah, berbudi pekerti lah yang baik !”, Abu Hurairah radliyallahu anhu bertanya, “Apakah budi pekerti yang baik itu, wahai Rasulullah ?”, Rasul menjawab, “Yaitu engkau menyambung hubungan orang yang memutuskanmu, engkau memaafkan orang yang menganiayamu, dan engkau member terhadap orang yang menghalangimu” (HR. Baihaqi)

Read more…

Categories: Ngaji, Tabligh Kaitkata:, ,

Khuthbah Jum’at, Apa dan Bagaimana?

10 Januari 2012 1 komentar

Secara harfiah, khuthbah berarti ucapan yang tersebar, yang digunakan sebagai bahan ceramah oleh seseorang yang fasih ucapannya pada sekelompok orang agar patuh. Dalam istilah fiqh, khuthbah adalah ucapan-ucapan tersusun yang berisi petuah dan penyampaian pesan dengan sifat-sifat tertentu. Ada beberapa jenis khuthbah yang disyari‘atkan yaitu
1.    Khuthbah Jum‘at.
2.    Khuthbah Idul Fitri.
3.    Khuthbah Idul Adlha.
4.    Khuthbah Kusuf (gerhana matahari).
5.    Khuthbah Khusuf (gerhana rembulan).
6.    Khuthbah Istisqo’. Read more…

Berobat dengan Benda Najis atau Haram

10 Januari 2012 Tinggalkan Komentar

Islam menaruh perhatian cukup besar dalam hal pemeliharaan kesehatan. Sekian keringanan disyari’atkan untuk menjaga kesehatan. Bagi orang yang bepergian jauh, diperbolehkan tidak berpuasa Ramadan, karena kondisi bepergian akan menguras energi fisik, sementara dengan berpuasa, asupan energi terbatasi. Bagi orang sakit, yang dalam kondisi lemah fisiknya, boleh tidak berpuasa, agar penyakitnya tidak semakin parah. Dan sekian banyak contoh partikular lainnya. Termasuk juga berobat bagi orang yang sakit.

Secara umum, upaya pengobatan adalah legal secara syari’at, sebagaimana menjadi ijma’ para ulama’. Kalangan Syafi’iyyah menyatakan bahwa berobat hukumnya sunnah, berdasarkan sekian banyak hadis yang menganjurkannya. Meski demikian, seandainya seseorang yang sakit, tidak melakukan pengobatan dengan motif tawakkal, maka hal inipun masih dianggap sebagai sebuah keutamaan. Jika seseorang yang sakit tidak berobat, hingga pada akhirnya meninggal dunia, maka dia tidak dinyatakan berdosa akibat keengganannya. Beda halnya dengan seseorang dalam kondisi amat lapar, yang seandainya dia tidak makan, maka akan mati, tetapi dia enggan makan, dan pada akhirnya meninggal dunia, maka orang ini dinyatakan berdosa. Hal ini karena peranan makanan hampir bisa dipastikan sebagai penyambung hidup. Lain halnya peranan obat bagi orang yang sakit, keberadaannya belum bisa dipastikan menjadi penyebab kesembuhan dan keberlangsungan hidup. Korelasi berobat dengan kesembuhan masih dalam taraf dhann (dugaan, asumsi).

Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.